Desa Mehanggin — Sejarah yang Mulia, Akses yang Tertinggal

Oleh: JAMHURI

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan kaya akan sejarah dan perjuangan rakyatnya. Di antara deretan desa yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kecamatan Muaradua, terdapat satu nama yang menyimpan jejak panjang peradaban sekaligus pengorbanan bangsa, yaitu Desa Mehanggin.

Desa Mehanggin dikenal sebagai desa tertua ketiga di Kecamatan Muaradua. Berdiri sejak ratusan tahun silam, desa ini telah menyaksikan pergantian zaman, lahirnya generasi demi generasi, serta bagaimana wilayah sekitarnya tumbuh dan berkembang pesat. Namun sayangnya, nama yang tertua belum tentu membawa kemudahan bagi warganya di masa kini. Hingga hari ini, kemajuan yang dinikmati daerah lain belum sepenuhnya menyentuh warga Mehanggin.

Satu hal yang paling terasa tertinggal adalah akses informasi dan komunikasi. Di tengah dunia yang serba digital, di mana hampir setiap sudut desa lain sudah terhubung dengan jaringan internet, warga Desa Mehanggin masih harus berjuang hanya untuk sekadar mendapatkan sinyal telepon. Belum ada akses internet yang layak di desa ini. Warga harus naik ke bukit, berjalan jauh ke pinggir jalan raya, atau menempuh perjalanan puluhan menit ke tempat lain hanya untuk mengirim pesan atau menerima panggilan penting.

Padahal, sebanyak -+ 90% dari _+ 3.000 jiwa penduduk Desa Mehanggin adalah pengguna layanan seluler yang membutuhkan jaringan. Ketiadaan akses internet bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan soal keterbatasan peluang. Anak-anak sekolah kesulitan mencari materi pelajaran, petani tidak bisa memantau harga pasar secara langsung, pelaku usaha terhambat dalam transaksi, dan masyarakat sulit mengakses layanan publik yang kini berbasis daring. Desa yang sudah berdiri sejak lama ini justru tertinggal di saat yang paling membutuhkan konektivitas.

Kita tidak boleh lupa, Desa Mehanggin bukan sekadar desa biasa. Di tanah ini, tujuh orang putra terbaiknya pernah turut berjuang secara langsung dalam rangka merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Tujuh pahlawan dari Mehanggin itu mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa, agar kita semua bisa hidup bebas dan merdeka hari ini. Mereka berjuang bukan untuk dikenal semata, melainkan agar generasi penerusnya bisa hidup layak, maju, dan setara dengan saudara-saudaranya di tempat lain.

Lantas, apakah pantas keturunan para pejuang kemerdekaan ini justru yang paling lambat menikmati hasil kemajuan bangsa? Apakah adil, di saat negara terus bergerak maju ke era digital, warga Desa Mehanggin masih kesulitan berkomunikasi?

Kami berharap perhatian pemerintah daerah, penyedia layanan telekomunikasi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat segera menoleh ke Desa Mehanggin. Jangan biarkan desa yang lahir paling tua dan menyimpan sejarah perjuangan paling mulia ini menjadi desa yang paling tertinggal.

Membangun menara sinyal di Desa Mehanggin bukan sekadar urusan infrastruktur. Itu adalah bentuk penghormatan kepada tujuh pahlawan kemerdekaan dari desa ini. Itu adalah wujud janji negara kepada warganya — bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari keterisolasian, kesetaraan akses, dan peluang yang sama bagi semua anak bangsa, di mana pun mereka tinggal.

Semoga suara warga Desa Mehanggin segera didengar, dan koneksi yang dinanti-nantikan segera hadir. Bukan untuk kemewahan, melainkan untuk keadilan.( JAM)